PPDB

PENDIDIKAN..... SDN1KARANGSENTUL......BERILMU, BERKUALITAS, BERLANDASKAN IMAN ----------:SDN1Karangsentul.com......Informasi Pengetahuan Populer,dan Edukatif

X

...

Minggu, 13 April 2014

SEMUANYA HANYA UNTUK AYAH

Pagi yang cerah di hari minggu. Ku tatap langit yang begitu cerah dengan dihiasi awan yang begitu putih seperti putih salju, dan dihiasi oleh kicauan burung yang menambah pagi ini semakin indah. Apalagi aku bisa menikmati hari ini dengan Ayah di taman belakang rumah. Karena aku terlalu sibuk oleh urusan sekolah ku tiap hari yang membuat ku jarang sekali menikmati indah nya dunia bersama Ayah walau pun Ayah hanya bisa menemani ku sembari duduk diatas kursi rodanya.
“Dinda hari ini kamu gak latihan apa?” tanya ayah tiba-tiba.
“Enggak Yah hari ini libur, capek masa tiap hari aku latihan terus. Aku kan mau nemani Ayah juga. Masa bik Inah terus sih yang nemani ayah sedangkan aku anak semata wayang Ayah jarang ngurusin Ayah.” jawab ku sembari terus mendorong kursi roda Ayah mengelilingi halaman belakang rumah.

Ayah ku terkena penyakit setruk, tangan kiri nya sudah tidak berfungsi lagi. Selain itu Ayah terserang penyakit diabetes. Aku adalah anak semata wayang. Bunda ku telah meninggal sejak aku kelas 1 SMA akibat kecelakaan. Aku adalah anak piatu, maka dari itu aku sangat sayang sama Ayah walau aku jarang dirumah gara-gara sibuk mempersiakan ujian yang sudah di lambang pintu. Dan biasanya setiap hari mingggu aku selalu latihan piano dan bulu tangkis.
“Enggak apa-apa kok sayang. Ayah ngerti kamu tuh harus konsen belajar. Kamu gak usah pikirin Ayah yah?”

Aku pun menghentikan kursi roda. “Ayah maafin Dinda ya..Dinda memang bukan anak yang baik untuk Ayah.” Kata ku sembari menunduk dan berurai air mata.
“Enggak Dinda, Ayah cukup bangga sama kamu. Kamu anak yang baik,pintar,rajin dan berprestasi..” ucap Ayah sembari mengelus kepala ku.
“Dinda sayang Ayah.” Kataku sembari memeluk tubuh Ayah. “iya sayang ayah juga.”
“oh iya Ayah besok Dinda akan mengikuti perlombaan piano tingkat kota Yah. Doakan Dinda ya yah.” kataku sembari melepaskan pelukan Ayah.
“iya sayang pasti Ayah doakan kamu menan,. Ayah yakin kamu pasti bisa jadi yang terbaik. Menang lah demi Ayah ya.” pinta Ayah pada ku.
“iya Yah, Insaallah.” kata ku sembari meneteskan air mata.
Keesokan harinya setelah pulang sekolah aku langsung bergegas menuju ketempat pertandingan bersama Ayah dan bik Inah pembantu ku. Bik Inah bagi ku seperti ibu kandung ku maka setiap ada pertandingan aku selalu mengajak dia.

Setibanya di tempat pertandingan ternyata yang ikut lomba lumayan banyak. Wajar aja sih ini perlombaan tingkat kota. Aku mendapat nomor urut 56 sedangkan yang mengikuti perlombaan sebanyak 80 orang. Belum tiba giliran ku tampil tiba-tiba muka ayah pucat dan badanya bergemetar. Aku yang melihat kejadian itu langsung panik dan menangis karena tiba-tiba Ayah tidak bisa bicara.
“Ayah kenapa yah.? Bik telvon rumah sakit yah pesan ambulan cepat.” perintah ku pada bik Inah. Tak lamakemudian ambulan datang, dan Ayah dimasukan kedalam ambulan. Aku pun masuk kedalam ambulan itu meninggalkan acara itu. Aneh tiba-tiba Ayah bisa bicara walaupun terbata-bata.
“Din..da..mau..kemana..bi..ar..ayah..ditemani..bik Inah..ka..mu..harus ikut..perlom..baan ini,,ayah..yakin..kamu bisa..bawa..pu..lang..piala itu..untuk..Ayah..yah..”
“iya yah pasti yah doain Dinda, Dinda sayang Ayah semoga Ayah cepat sembuh..Dinda akan membawa piala itu untuk Ayah.. Dinda janji Yah.” kataku sembari terus menangis. Tapi air mataku tak ada gunanya. Ambulan itu terus berjalan meninggalkan ku, Dan aku pun kembali memasuki ruangan itu kebetulan nama ku dipanggil. Aku pun langsung tampil dengan terus berurai air mata memikirkan keadaan ayah dan brusaha tetap menampilkan yang terbaik karena aku yakin aku bisa membawa piala itu untuk Ayah.

1 jam telah berlalu aku belum dapat kabar tentang keadaan Ayah karena dari tadi bik Inah tidak bisa dihubungi. Dan itu semua makin membuat ku cemas dan binggung bagai anak ayam yang kehilangan induknya. Tiba-tiba ku mendengar nama ku dipanggil oleh dewan juri. Aku tidak sadar kalau pengumuman pemenang perlombaan telah dimulai.
“ Dinda Khairunissa.” Teriak juri itu penuh semangat disertai tepuk tanggan para penonton dan para paserta lomba itu. Dan betapa terkejutnya aku ternyata aku menjadi juara 1. setelah menerima piala itu aku pun langsung minta izin kepada dewan juri untuk pulang lebih dulu. Dan itu membuat para juri heran dan binggung.

Tanpa pikir panjang lagi aku langsung kerumah sakit. Setibanya di rumah sakit aku lalu menanyakan ruangan Ayah pada resepsionis dirumah sakit itu. Setelah mengetahui ruanganya aku pun langsung berlari sambil meneteskan air mata. Dan ketika tiba di UGD betapa terkejutnya aku ketika melihat tidak ada Ayah disitu. Tapi ketika ku membalikan badan aku melihat bik Inah sedang menangis.
“Bibik...” panggil ku sembari berlari menghampiri bik Inah. “ non Dinda..”
“Bibik kenapa nangis? gimana keadaan Ayah? Ayah baik-baik aja kan bik?” tanya ku pada bik Inah.
“Non harus sabar yah.. Ayah non Dinda kembali kepada-NYA.” Jawab bik inah dengan ragu.
“Apaaa? gak mungkin bik, Ayah gak mungkin meninggal? sekarang ayah dimana bik?” tanya ku sembari menangis histeris.
“Dikamar mayat non.” Aku yang mendengar jawaban bik Inah langsung berlari dan diikuti oleh bik inah dari belakang.
“Ayaaaahhhhhhhhh....”seru ku sembari membuka penutup wajah Ayah, Ayah jangan tinggalin Dinda sendiri Ayah, Dinda udah nepati janji dinda untuk pulang bawa piala ini Ayah.” kata ku sembari memeluk badan Ayah yang sudah tak bernyawa lagi.
“Non harus sabar yah, ini mungkin cobaan untuk non.”
“Iya makasih bik.” Kataku sembari mengecup kening ayah dengan lembut dan kasih sayang.



http://www.lokerseni.web.id/2013/04/semuanya-hanya-untuk-ayah-cerpen-sedih.html

Tidak ada komentar: