PPDB

PENDIDIKAN..... SDN1KARANGSENTUL......BERILMU, BERKUALITAS, BERLANDASKAN IMAN ----------:SDN1Karangsentul.com......Informasi Pengetahuan Populer,dan Edukatif

X

...

Sabtu, 30 November 2013

Orang Miskin Dilarang Hidup!

Sekitar setengah bulan lalu saya menjenguk kawanku yang terbaring tak sadarkan diri (koma) di ruang ICU RS Hasan Sadikin, Bandung. Ia bersama kawannya tertabrak mobil saat mengganti ban mobil di ruas Tol Cipularang. Kawannya langsung tewas di tempat. Sementara ia masih bisa diselamatkan di bawa ke rumah sakit. Delapan tulang rusuknya patah. Menurut diagnosa dokter, di otaknya terdapat darah beku.

Ketika saya menjenguknya, ia sudah dioprasi. Delapan Tulang rusuknya sudah disambung. Namun, kondisinya masih tak sadarkan diri. Tangan dan kakinya terkadang bergerak-gerak. Matanya sesekali melek.Tenggorokannya disobek untuk memasukkan selang oksigen. Saya tak tega melihatnya. Sebelum pulang saya membisiki agar bersabar dan mengingat Tuhan (menurut suster yang duduk disampingnya, ia sebetulnya sudah bisa mendengar).

Seminggu berikutnya saya mendapat kabar ia akan dibawa pulang. Saya sedikit gembira. Saya menyangka ini kabar baik: kondisinya sudah membaik sehingga boleh dibawa pulang dan berobat jalan. Ternyata keliru, ia disuruh pulang (Mungkin lebih tepanya diusir!) karena jatah Askesnya habis! Sedangkan pihak keluarga sendiri tak mampu membayarnya. Bagaimana mungkin mereka harus membayar ratusan juta sementara pekerjaan suaminya hanya sebagai kernek mobil pengangkut batubara Cirebon-Bandung?

Terus terang saya marah. Saya hanya bisa marah karena tak bisa berbuat apa-apa. Ini negara apa/siapa? Di sini mausia tak ada harganya sama sekali. Ironisnya, di tengah kondisi seperti ini, banyak pejabat publik yang dengan mudahnya merampok uang rakyat miliaran bahkan triliunan rupiah (Hampir semuan pejabat yang tertangkap KPK masih bisa tersenyum dan tertawa lebar. Sesekali mereka harus dibawa ke ruang ICU dan disuruh melihat orang-orang sakit yang ada di sana. barangkali sj sadar). Jelas sekali kita bukan negara miskin!

Sebelum di bawa pulang, saya mendapat kabar Tuhan memanggilnya. Dalam pikiran saya timbul petanyaan aneh: ia dipaksa meninggal atau memang sudah waktunya meninggal. Istri dan seorang anaknya pasti bersedih dan sangat terpukul oleh kejadian ini.

Semoga Tuhan mengampuni dosanya dan memberinya tempat yang layak di sisiNya. Selamat tinggal, kawan! Jangan lupa katakan pada Tuhan: di Indonesia orang miskin tak boleh hidup!

@Jamal_Moh
sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/01/orang-miskin-dilarang-hidup-614636.html

Tetap Waras Di Jaman Edan



Pernahkah terbersit di benak Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1874), pujangga keraton Surakarta, bahwa bait yang ditulisnya dalam kitab Kolotido tetap populer hingga saat ini. Dalam kitab itu beliau menuliskan sebuah kalimat pertamanya berbunyi : Amenangi Jaman Edan – “Mengalami Zaman Gila”. Dengan rasa ketakjuban tiba tiba saya teringat dengan penulis besar budaya Jawa yang diangkat menjadi pujangga keraton Surakarta oleh Susuhunan Pakubuwono ke-VII saat berusia 43 tahun itu.

Semuanya berawal dari berita santer mengenai rencana adu jotos seorang penasihat hukum dengan anak musisi tersohor. Selama dua hari saya membaca berita tersebut di harian Suara Merdeka 29-30 November. Tak habis pikir. Ketakjuban pada Ronggowarsito lebih kepada kondisi negeri ini seolah mirip dengan perenungan beliau tentang zaman gila. Padahal olah pikir tentang jaman edan ini terjadi lebih dari seratus lima puluh tahun lalu.

Bukankah suatu zaman sinting manakala seorang bapak mengijinkan, bahkan berniat memfasilitasi anak remajanya bertarung dengan orang dewasa. Bukankah jaman yang gendeng tatkala orang dewasa meladeni tantangan duel anak kecil berusia empat belas tahun. Menang ora kondang,kalah ngisin isini(Kalau menang tidak akan menaikkan martabat dan membuat tersohor, namun kalau kalah justru memalukan serta menurunkan martabat).


Gendeng,sinting, edan atau apapun istilahnya menjadi semakin gayeng (riuh) ketika seorang advokat malah menawarkan hadiah untuk pemenang “pertandingan” tinju itu.Untunglah ibu anak remaja itu masih waras dan berpikiran lurus, meminta maaf atas kelancangan anaknya. Walhasil baku jotos di ring tinju yang sedianya dilaksanakan 30 November itu batal digelar. Masih ada satu orang, yang saya yakin waras sewaras warasnya, yaitu ketua lembaga nasional yang mengurusi perlindungan anak. Ketua lembaga ini mengecam rencana adu jotos ini karena tidak mendidik, bahkan menanamkan kebencian pada anak.

Raden Ngabehi Ronggowarsito,lahir dan wafat, 14 Maret 1802 - 24 Desember 1873) Sumber Photo : jasyaro.blogspot.com
Ronggowarsito juga mempunyai karya lain berjudul Jokolodang. Karya ini juga memotret situasi tidak menyenangkan, keadaan gila. Contoh kongkritnya kita bisa melihat dalam kondisi sekarang. Mangsa lembaga anti korupsi yang tertangkap sungguh nyolong pethek (di luar dugaan). Dalam Jokolodang beliau mengatakan banyak orang yang baik dan luhur penampilan luarnya, namun sejatinya mereka jahat. Wong alim pulasan,njobo putih njero kuning-orang yang kealimannya seperti cat, di luar putih tetapi di dalam kuning.


Dalam sebuah obrolan lewat pengirim pesan BB, seorang kawan yang menjadi auditor selama tiga belas tahun pernah merumuskan bahwa 80% orang brengsek yang tertangkap saat audit selalu mengejutkan. Di luarprofile,begitu katanya. Yang tampak brengsek dan benar benar brengsek hanya 20% an kurang lebih.

Terakhir kali ketika teman ini menemukan penggelapan sekitar 100 juta di salah satu kantor cabang. Pelaku penggelapan inilah yang setiap pagi memimpin doa dan memperdengarkan cakram padat (CD) lagu rohani sepanjang hari. Keseringan menangkap orang yang alim pulasan, kawan ini menjadi tidak percaya pada simbol yang nampak. Di akhir obrolan, kawan ini menulis “jangan biasa melihat kulit, selalu gali lebih dalam”

Adakah lagi hal hal gila lain? Ingatlah perilaku edan seorang artis beberapa tahun yang lalu ?, Adegan panas mengantar artis ini ke penjara. Gara gara video pornonya dengan artis lain, tersebar luas. Melihat ke-edan-an itu semua orang bergumam “ e..ternyata”

Ronggowarsito kala itu tidak hanya mengemukakan penilaiannya tentang jaman edan, namun juga memberikan satu nasehat : Dilalah karso Allah,begjo begjone kang lali,luwih begjo,kang eling lan waspodo –“Tetapi sudah menjadi kehendak Tuhan,betapa beruntung pun orang yang lupa,masih lebih beruntung orang yang selalu ingat dan waspada”.

Petuah ini jelas sekali menunjukkan jalan selamat menjalani kehidupan di jaman gila. Pada awalnya para penilep uang negara itu mungkin dianggap khalayak sebagai orang “beruntung” (jawa:begjo) karena hidup berlimpah dan terhormat dalam strata sosial. Walaupun untuk keberlimpahan dan kehormatan itu mereka menempuh jalan salah. Pada saat terjerumus ke jalan salah itulah mereka “lupa” (jawa : lali). Lupa bahwa hidup selamat haruslah menempuh jalan yang benar.

Yang kita saksikan di media, orang orang yang menempuh jalan salah dan dianggap “beruntung” itu pada akhirnya menjadi pesakitan dan masuk bui.

Orang yang selalu ingat kepada sang Pencipta dan senantiasa waspada serta berhati hati menjalani kehidupan akan lebih beruntung daripada orang yang “lupa”. Hal ini sudah menjadi kehendak Tuhan, demikian menurut Ronggowarsito,

Semoga kita tidak termasuk orang orang seperti dalam seloroh ini,”Jaman Edan ,Sing Ora Edan Ora Kumanan (Jaman Edan, Yang Tidak Edan Tidak Kebagian)”

Ditulis Rikho Kusworo selesai jam 02.10 dini hari Minggu 01 Desember 2013.
sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/01/tetap-waras-di-jaman-edan-614645.html

Harga Jual Seorang Teman



Anda semua mempunyai teman bukan? Jika anda merasa memiliki banyak teman, tentunya anda juga pernah merasa kehilangan seorang teman. Jika dipikir-pikir, teman itu layaknya pembeli, dan kita sebagai penjualnya. Pembeli akan datang ketika ia merasa memiliki perlu kepada penjual. Perlu untuk membeli sesuatu yang anda jual misalnya.

Coba kita kembalikan ingatan kita pada saat dimana kita kehilangan seorang teman yang kita sayangi. Kerap kita mengucapkan kalimat seperti ini, “Dia cuma mau datang (berteman) ketika ada butuhnya saja, jika tidak ada butuhnya ya pergi.” Kalimat tersebut terdengar sedikit sadis dan terlalu menyalahkan sang teman yang sedang pergi membelakangi kita. Jika kita melihat dari sisi si sakit hati, maka yang akan kita lihat adalah suatu bentuk pemahaman jika selayaknya teman haruslah ada, baik saat ia membutuhkan sesuatu maupun tidak.

Nah, bagi pembaca yang kebetulan pernah mengalami hal ini, mari kita ulas suatu alasan kepergian teman yang terkesan kejam itu melalui logika yang sehat.

Berhubungan dengan kata Butuh, kita tahu dan sangat faham jika setiap orang, setiap makhlukNya mempunyai suatu kebutuhan terhadap dunia diluar dirinya. Kata ‘butuh’ biasanya kita jodohkan dengan kata ‘ingin’. Misalnya, “Saya ingin membeli gula-gula,” akan berbeda maknanya dengan kata“Saya butuh membeli gula-gula.” Artinya, kebutuhan adalah sesuatu yang memang penting untuk dipenuhi, sedangkan keinginan sifatnya masih sekunder dan bisa di pending. Tapi siapa nyana jika ternyata memenuhi keinginan juga merupakan suatu bentuk memenuhi kebutuhan akan rasa ingin itu sendiri. Sebenarnya ada yang luput dari bahasan ini, yakni kebutuhan bukan hanya berkisar pada kebutuhan materialistik saja, tapi juga psikologis manusia.

Setiap manusia membutuhkan seorang teman. Jika anda pernah belajar ilmu sosial, manusia merupakan makhluk sosial yang tak bisa lepas dari manusia, bahkan makhluk yang lainnya. Inti dari pembahasan di atas adalah bahwa kebutuhan memang benar-benar penting untuk dipenuhi.

Sekarang hubungannya dengan pertemanan. Anda pikir, untuk apa anda berteman dengan orang yang anda anggap cocok untuk anda jadikan sebagai teman? Anda pikir, untuk apa mereka mau dan bersedia berteman dengan anda? Sekarang anda pikir lagi, mengapa salah satu dari mereka tiba-tiba menjauh dari anda? Mengapa tiba-tiba mereka menjadi musuh anda? Atau bahkan mengapa mereka bisa tiba-tiba tidak menjadi siapa-siapa dalam hidup anda? Jawabannya hanya ada satu, Mereka berteman dengan anda ketika mereka butuh, dan meninggalkan anda ketika tidak membutuhkan anda lagi.

Masih ingat dengan bahasan tentang kebutuhan psikologis? Dalam pertemanan, tidak dapat disangkal jika kita membutuhkan manusia atau objek lain untuk kita jadikan sebagai teman. Kita butuh teman untuk berbagi, mendengarkan ucapan kita, mendukung kita, dan lain sebagainya. Dan pertemanan dengan manusia akan berjalan hanya jika kedua belah pihak merasa masih membutuhkan kita. Pada saat mereka sudah tidak membutuhkan kita, baik sebagai teman bicara atau semacamnya, jelas mereka akan meninggalkan kita. Semua terasa bersifat alamiah bukan?

Sebenarnya dalam berteman, setidaknya dalam hal ini, kita hanya butuh untuk mempertahankan apa yang teman kita butuhkan pada diri kita tetap melekat pada kita. Kita sebagai orang yang enak diajak bicara misalnya, maka untuk menjaga agar teman kita tidak berlari adalah menjaga sifat enak diajak bicara tersebut tetap berada dan menjadi identitas kita. Maka, selama kita memiliki sifat tersebut, teman akan tetap merasa butuh terhadap kita, dan tidak akan berlari menjauhi kita.


sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/01/harga-jual-seorang-teman-612787.html
http://sekarcantix.blogspot.com

Selasa, 26 November 2013

Ucapan “Salam” Semakin Asing di Indonesia.

Bagi umat Islam, ucapan Salam, berupa ‘Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh’ merupakan do’a bagi pendengarnya atau yang disapanya. Mengucapkan salam tersebut adalah sunnah namun menjawabnya adalah wajib. Makna dari salam tersebut adalah, ‘Semoga sejahtera-bahagia, rahmat dan keberkahan dari Allah swt kepadamu’. Sungguh sebuah do’a yang diperlukan seseorang. Semakin banyak berdo’a tentunya semakin banyak kans untuk diijabah.

Tapi, sungguh aneh umat Islam di Indonesia. Seolah-olah ungkapan dan ucapan salam ini menjadi asing. Saya yang sudah terbiasa setiap ketemu atau masuk ke rumah, ruangan kelas, termasuk pada saat mengajar mahasiswa, selalu mengucapkan salam. Tapi sayang, banyak yang mengabaikan jawaban salam tadi. Ucapan salam, begitu pesan Baginda Nabi Muhammad saw, ucapkan kepada siapa saja, baik yang kamu kenal maupun tidak. Tapi umat Islam kita semakin terkikis dengan ajaran kebaikan agamanya, khususnya dalam soal muamalah yaitu salam. Ini baru satu aspek saja. Belum lagi aspek lain lagi yang begitu banyak.

Berbeda dengan di Hong Kong, misalnya. Sekali lagi Hong Kong. Bila anda kebetulan kesana, dimana komunitas BMI dari Indonesia begitu banyak, bahkan yang mengenakan jilbab, kita selalu disapa dengan ucapan salam. “Assalamualaikum”, begitu sapa mereka setiap bertemu orang yang berwajah Melayu dan Indonesia. Baik mereka kenal maupun tidak. Apa saja, termasuk berkirim SMS sekalipun diawali dengan ucapan ‘Salam’.

Saya jadi teringat dulu, ketika Gus Dur (Abd Rahman Wahid) ketika masih hidup yang mengganti ucapan ’salam’ dengan ’selamat pagi’. Betapa, sekarang pengaruh seruan Gus Dur itu menjadi kenyataan dan bukti, yang boleh jadi umat Islam jauh dari keberkahan lewat do’a ’salam’. Apa maksudnya ’selamat pagi’, apakah terkandung makna do’a disitu. Tidak ada, kecuali hanya sapaan persahabatan pada situasi dan waktu tertentu. Tidak lebih dan tidak kurang. ‘Selamat pagi, selamat siang maupun selamat malam’.

Saya jadi teringat dulu ketika masih mahasiswa. Kami sering melakukan kunjungan ke pedesaan di Jawa Barat, sekita Bogor-Puncak. Pada saat itu terdapat kawan asing dari Eropa (Bule). Gimana kami mengajarkan ucapan bertemu dan bersapa dengan penduduk. Bila mengajarkan mereka dengan ’selamat pagi, selamat siang maupun selamat malam’ tentunya perlu mereka menghafal kosa kata asing tadi. Jadilah yang kami ajarkan yang universal saja, diucapkan kapan saja bisa, diungkapkan kepada siapa saja boleh, baik laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa, dsb. Ungkapan tersebut adalah ‘Assalamulaikum warahmatullahi wa barakatuh’. Boleh disingkat dengan ‘assalamualaiku’ saja. Ternyata, ucapan tersebut mudah dilafalkan oleh mereka, sehingga penduduk desa juga sangat respek ada orang asing (Bule) yang bisa menyapa mereka dengan ucapan ’salam’.

Proses sekularisasi di tanah air oleh pemikiran dan ide nyeleneh para tokoh Muslim sudah sering kita dengar, dan hasilnya sekarang bisa kita rasakan, betapa ajaran Islam itu semakin asing di ranah sendiri. Bagi yang mengamati hal-hal kecil akan merasakan hal ini. Saya tentunya yang suka belajar dari kehidupan dan memungut hikmah yang berserakan (sesuai dengan wall saya di Kompasiana ini) begitu banyak mendapatkan hal-hal kecil yang luluh dari ajaran dan semangat keislaman. Belum lagi hal-hal yang besar.

Terus terang, saya ngiri (dalam makna positif) dengan tetangga negeri jiran Malaysia yang kukuh dan kokoh memelihara tradisi keislamannya. Jati dirinya jelas, Melayu-Islam-Beraja. Dan dengan identitas tersebut sangat maju dan agama (tradisi keagamaan) tidak menghalangi mereka untuk maju. Tapi, Indonesia gimana? Sudah tertinggal dalam berbagai hal dengan Malaysia. Coba kita renungkan hal ini. Dimana letak kesalahannya. Saya ambil contoh kecil saja antara kedua negara Melayu (Indonesia) dalam siaran TV (berita). Di Malaysia diawali dengan ucapan ‘Salam’. Tapi adakah penyiar TV di Indonesia, walau stasiun TV-nya milik orang Islam sekalipun, tidak ada yang memulai dengan ucapan ’salam’ tadi.

Saya merasakan Islam semakin dijauhkan dari umatnya di tanah air. Istilah agamanya ‘gharib’. Memang Baginda Nabi Muhammad saw sudah mewanti-wanti bahwa nanti di akhir zaman (suatu zaman) Islam akan gharib (asing dan aneh), dianggap aneh oleh pemeluknya. (Contohnya tadi, baru soal ’salam’ saja diganti dengan selamat pagi, dsb). Gharib (asing dan aneh) ini boleh jadi akan semakin kuat dan mengakar di masyarakat. Tengoklah isi TV nasional di tanah air, apakah banyak yang mencerminkan Islam. Tidak. Yang ada Islam cuma muncul ketika ada kematian, perkawinan, dan hari raya. Di luar itu, Islam sono gih ke got, kata orang Betawi, artinya dicampakkan begitu saja.

Semoga ada yang peduli. Umat kembali ke jati dirinya. Bukan dengan kekerasan dan teror; tapi dengan kesejukan doa’ dipagi ahri ketika masuk ke ruang kerja dan menyapa kolega dengan do’a ‘Assalamualaikum’ semoga kesejahteraan-kebahagiaan untukmu’ selalu menyapa kita setiap saat. Betapa indahnya tentunya!

sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/11/26/ucapan-salam-semakin-asing-di-indonesia-613149.html