PPDB

PENDIDIKAN..... SDN1KARANGSENTUL......BERILMU, BERKUALITAS, BERLANDASKAN IMAN ----------:SDN1Karangsentul.com......Informasi Pengetahuan Populer,dan Edukatif

X

...

Jumat, 02 Agustus 2013

MENDIDIK BUKAN MENDADAK

                             Mendidik itu bukan mendadak

Tak usahlah cepat-cepat
Bila anak tak taat
Tak usahlah marah berat

Kalau berniat memijat refleksi telinganya
tak usahlah sambil ditarik dan diteriaki
Cukup pijat urat-urat syaraf kepedulian..
Sepenuh hati, dan bukan sesuka hati
Sebab telinga memang salah satu pusat refleksi

Mendidik itu bukan Mendadak
Mendidik itu proses bukan hasil
Mendidik itu tawakkal bukan ta'kawal
Mendidik itu sholat bukan sulit

Proses itu bertahap
Hasil itu sekejap

Tawakkal itu berserah pada pengaturanNya
Ta' kawal itu resah dan turut mengatur-Nya

Sholat itu lambang khusyu dan tenang
Sulit itu karena tak pernah sholat dengan tenang 

Kamis, 18 Juli 2013

Taubat setelah menyaksikan sakaratul maut


Bismillahir-Rahmanir-Rahim .. Malam telah memeluk hari. Tapi aku tak jua beranjak dari tempat nongkrongku bersama teman-teman di trotoar jalan kota. Menenteng gitar, bernyanyi meski suara fals, menghibur sesama teman nongkrong.

Tak peduli tatapan lalu lalang orang yang merasa terganggu atau tak nyaman dengan tingkah kami. Meski tak jarang pula, or ang tersenyum dengan ulah kami.



Adzan yang terdengar dari atap-atap masjid seperti angina lalu bagiku dan teman-teman. Terkadang rasa takut mati dan bayang-bayang neraka melintas di benakku. Tapi ketakutan itu hanya sesaat, berlalu bersama kesenangan dan tawa bersama teman-teman. Bersama mereka, aku tak pernah takut atau berpikir tentang mati.

Bukannya aku tak pernah shalat. Aku selalu rajin melakukannya di depan orang tuaku. Di rumah, kedua orang tuaku sangat keras menerapkan agama. Mereka sangat ‘rewel’ bila anak-anak malas untuk segera berwudlu bila adzan tiba. Tiba saat kost begini, mana ada yang memarahiku. Awalnya memang berat dan sayang meninggalkan sholat.

Tapi begitulah, teman gaulku di kampus bukan orang yang peduli pada agama. Hingga jadilah aku kian jauh dari agama. Tadarus tak pernah bahkan hafalan Al-Quranku yang tak seberapa ikut melayang. Meski kuingat, bila aku sholat, teman-teman akan meledekku, “Sejak kapan kamu insyaf?” atau sindiran-sindiran senada lainnya.

Selain nongkrong, hari-hariku penuh musik. Dimana aku berada tak pernah lepas dari musik, musik, musik, dan musik. Ada konser artis terkenal, jangan harap aku lewatkan.

Yang tiket aku peroleh dari pinjaman, dibayarkan teman yang mau berbaik hati atau menjual barang-barangku pada sesama teman. Atau aku manfaatkan pacarku yang tak cuma satu, dengan alasan ini itu, hingga mereka rela merogoh kocek untukku.

Soal tampang dan fisik, jangan tanya dech, artis Dude Herlino, Anjasmara, atau Rafi Ahmad semua lewat. Otakku pun terbilang encer. Terbukti IP-ku bagus, prestasiku di kampus lumayan, aku pun jadi ketua klub bahasa Inggris di kampus. Soal cewek, aku tak perlu mencari, sebab mereka yang mencariku…

Sebagai anak band, lengkap sudah kelebihanku. Sering manggung dan menjadi terkenal makin membuatku lupa diri. Di tengah lupa diriku, diantara teman-teman nongkrong hanya aku satu-satunya yang tak merokok atau menyentuh minuman keras. Tapi itu bukan berarti aku bersih dari dua barang itu.

Aku pernah “berlatih” menjadi penikmatnya. Tapi tak pernah berhasil. Baru menghisap sekali sudah batuk-batuk, dadaku sesak dan kepala serasa berputar. Padahal itu baru sekali isapan, belum habis sebatang. Pun saat “latihan” minum, baru mencicip sedikit sudah terasa pahit dan panas di mulut. Aku terpaksa berkali-kali menyemburkannya keluar. Meludah tak henti-henti. Sebab itu teman-teman menjulukiku, banci.

Begitulah, selama hampir tujuh semester, hidupku di rantau begitu glamor dan merdeka. Uang, aku bisa mencari sendiri dari panggung ke panggung. Atau sesekali aku menemani “penggemarku” jalan-jalan.

Hanya jalan-jalan, tapi uang yang kudapat sungguh luar biasa. Sekali jalan, paling sedikit aku dapat tips atau uang terima kasih dari wanita-wanita penggemarku antara 1-5 juta. Pernah aku diberi 10 juta tunai !!

Night Club dan hotel menjadi langganan manggung band-ku. Dan itu kian membuat aku dan teman-teman lain makin masuk ke lubang hitam. Rawan iming-iming pesona dunia, materi juga wanita. Kadang batin terdalamku berontak, ingin beranjak, tapi sekali lagi dunia melenakanku.

Seperti malam ini, kami baru saja lepas manggung pukul satu dini hari. Minuman keras tercium dari mulut beberapa teman. Entahlah tiba-tiba aku begitu benci melihat mereka, sikap dan perbuatan mereka. Tiba-tiba aku merasa malu, berada diantara tukang mabuk yang begitu dipuja. Apa lebihnya? Hatiku benar-benar gelisah sepanjang perjalanan pulang.

“Brakk!!!” benturan keras diiringi derit rem yang diinjak keras dan gesekan benda-benda berat *****akkan telinga. Tahu-tahu aku telah berdiri di luar mobil. Limbung, bingung dan gemetar. Rupanya aku terpental ke luar dari mobil dengan tubuh penuh darah. Dalam kondisi bingung kudekati mobil rombongan band-ku yang terbalik.

“Innalillahi wa inna illaihi raji’uun“… aku teringat Allah. Kusebut asma Allah berkali-kali, diantara teriakan panikku memanggil teman-teman yang sekarat. Beberapa menyahut pelan. Tapi tidak dengan Bay… Kulihat sekujur tubuhnya berlumur darah, dan ia benar-benar sekarat.

Tapi yang keluar dari mulutnya sungguh mengerikan. Mulutnya tak menyebut asma Allah, tapi justru ia menyanyikan lagu dari sebuah lagu band ternama. Ia juga berteriak “Ambilkan gitar, ambilkan gitar” sampai nyawa lepas dari tubuhnya.

Aku begidik dan gemetar dengan hebatnya. Usahaku menuntunnya tak berhasil. Aku berlari menjauh dari mobil sambil menangis histeris. Tanpa kusadari, justru aku berlari ke arah mobil lain yang bertabrakan dengan kami. Kondisinya jauh lebih ringsek.

Subhanallah, keadaan di sana membuatku takjub. Kaset murattal masih terdengar dari tape mobil yang menyala. Dua laki-laki penumpangnya aku yakin dalam keadaan pingsan. Sebab saat ku panggil tak ada sahutan.

Yang luar biasa sesekali kudengar rintihan menyebut asma Allah dan bacaan surat Al-Quran. Lain dengan Bay… Aku menangis sesenggukan sambil memberi pertolongan sebisaku. Alhamdulillah, akhirnya pertolongan datang dari mobil-mobil yang kebetulan lewat.

Sebulan sejak peristiwa itu, aku tak bisa tidur. Terbayang dua peristiwa yang kontras, juga aku yang terlempar ke luar mobil. Allah sengaja menyelamatkanku untuk menyaksikan dua kejadian di saat bersama-sama.

Dan hal itu mengguncang jiwa dan batinku. Bisa saja akhir hidupku seperti Bay atau seperti dua lelaki itu. Kejadian itu membuatku terbalik 180 derajat. Aku tinggalkan band-ku dan semua kegiatan burukku. Aku menjelma menjadi manusia baru sejak lima tahun lalu. Dan itu bermula dari kejadian di tepi jalan kota dan atas hidayah Allah semata. (Ummu Faruq)



Subhanallah. Cerita Majikan Yang Sembuh dari kanker Karena TKW


Di salah satu keluarga Arab Saudi yang tinggal di pinggiran kota Riyadh, karena sang istri menderita kanker darah stadium 4, maka keluarga ini merekrut seorang TKW asal Indonesia untuk mendampingi dan merawat sang istri.

Seminggu TKW ikut keluarga Saudi ini, sang isteri yang menderita kanker darah ini curiga pada kepada sang Pembantu karena sering bolak balik ke kamar mandi dan berlama-lama.

Suatu pagi ia menanyai sang pembantu kenapa sering ke kamar mandi dan berlama-lama tidak wajar.

Sang TKW menjelaskan bahwa ia baru saja 20 hari yang lalu melahirkan anak, karena sangat butuh uang iapun mendaftar menjadi TKW dan berangkatlah ke Saudi dengan biaya pinjam kiri kanan.

Karena kedua susunya selalu penuh ASI, maka dia terpaksa harus sering2 ke kamar mandi mengeluarkan ASI nya karena kalau tidak akan terjadi peradangan, sambil terus membayangkan bagaimana kondisi bayinya yang ditinggal di Indonesia.

Sang majikan perempuan ini pun sangat iba, dan segera membookingkan pesawat.

Keesokan harinya ia memanggil sang TKW sekaligus menyodorkan 2 amplop berisi ticket pesawat, paspor dan gaji selama 24 bulan (sesuai perjanjian kerja kontrak 2 tahun).

"Saya tidak tega, saya dapat merasakan perasaan seorang ibu, pulanglah ke kampungmu, jika suatu hari kamu ingin kembali silakan, dengan senang hati kami akan tetap menerimamu dgn tangan terbuka, ini no telepon kami, silahkan hubungi kami jika perlu". Kata sang Majikan.

Sang pembantu gembira sekali dan sangat berterima kasih akan kebaikan hati sang Majikannya. Dan dia pun segera pulang ke tanah air.

Keadaan sang majikan sendiri ternyata tiap hari terus membaik meskipun tanpa pembantu.

Dia ke dokter langganannya, periksa, dokter kaget, seolah tidak percaya, untuk meyakinkan, dokter mengulangi beberapa kali CT-scan, indoskopi, periksa darah berulang ulang. Hasilnya tetap menunjukkan 100% sembuh total. Ia bersih dari kanker.

Dokter bertanya, bagaimana ini bisa sembuh? Obat apa yang diminum?

Dia hanya berkata, "Pesan Rasulullah saw: 'Obatilah yang sakit dengan perbanyak bersedekah. (" Daawuu mardhaakum bisshadaqah ").




Kisah lelaki yang melawan iblis


Suami istri itu hidup tenteram mula-mula. Meskipun melarat, mereka taat kepada perintah Tuhan. Segala yang dilarang Allah dihindari, dan ibadah mereka tekun sekali. Si Suami adalah seorang yang alim yang taqwa dan tawakkal. Tetapi sudah beberapa lama istrinya mengeluh terhadap kemiskinan yang tiada habis-habisnya itu. Ia memaksa suaminya agar mencari jalan keluar. Ia membayangkan alangkah senangnya hidup jika segala-galanya serba cukup.


Pada suatu hari, lelaki yang alim itu berangkat ke ibu kota, mau mencari pekerjaan. Di tengah perjalanan ia melihat sebatang pohon besar yang tengah dikerumuni orang. Ia mendekat. Ternyata orang-orang itu sedang memuja-muja pohon yang konon keramat dan sakti itu. Banyak juga kaum wanita dan pedagang-pedagang yang meminta-minta agar suami mereka setia atau dagangnya laris. "Ini syirik," pikir pria yang alim tadi. "Ini harus diberantas habis. Masyarakat tidak bisa dibiarkan menyembah dan meminta selain Allah." Maka pulanglah dia terburu-buru. Istrinya heran, mengapa secepat itu suaminya kembali. Lebih heran lagi waktu dilihatnya si suami mengambil sebilah kapak yang diasahnya tajam.

Lantas pria alim tadi bergegas keluar. Istrinya bertanya tetapi ia tidak menjawab. Segera dinaiki keledainya dan dipacu cepat-cepat ke pohon itu. Sebelum sampai di tempat pohon itu berdiri, tiba-tiba melompat sesosok tubuh tinggi besar dan hitam. Dia adalah iblis laknatullah yang menyerupai sebagai manusia. "Hai, mau ke mana kamu?" tanya si iblis laknatullah. Orang alim tersebut menjawab, "Saya mau menuju ke pohon yang disembah-sembah orang bagaikan menyembah Allah SWT. Saya sudah berjanji kepada Allah akan menebang roboh pohon syirik itu." "Kamu tidak ada apa-apa hubungan dengan pohon itu. Yang penting kamu tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. Sudah pulang saja." "Tidak bisa, kemungkaran harus diberantas," jawab si alim bersikap tegas. "Berhenti, jangan lanjutkan!" bentak iblis laknatullah marah. "Akan saya teruskan!" Karena masing-masing tegas pada pendirian, akhirnya terjadilah perkelahian antara orang alim tadi dengan iblis laknatullah.

Kalau melihat perbedaan badannya, seharusnya orang alim itu dengan mudah bisa dibinasakan. Namun ternyata iblis laknatullah menyerah, meminta-minta ampun. Kemudian dengan berdiri menahan kesakitan dia berkata, "Tuan, maafkanlah kekasaran saya. Saya tak akan berani mengancam tuan. Sekarang pulanglah. Saya berjanji, setiap pagi, saat Tuan selesai menunaikan shalat Subuh, di bawah tikar sembahyang Tuan saya sediakan uang emas empat dinar . Pulang saja berburu, jangan teruskan niat Tuan itu dulu, " Mendengar janji iblis laknatullah dengan uang emas empat dinar itu, lunturlah kekerasan tekad si alim tadi. Ia teringat istrinya yang hidup tidak berkecukupan. Ia teringat akan saban hari keluhan istrinya. Setiap pagi empat dinar, dalam sebulan saja dia sudah bisa menjadi orang kaya. Mengingatkan desakan-desakan istrinya maka pulanglah dia. Patah niatnya semula hendak memberantas kemungkaran.

Demikianlah, semejak pagi itu istrinya tidak pernah marah lagi. Hari pertama, ketika si alim selesai shalat, dibukanya tikar sembahyangnya. Betul di situ tergolek empat benda berkilat, empat dinar uang emas. Dia meloncat riang, istrinya gembira. Begitu juga hari yang kedua. Empat dinar emas. Ketika pada hari yang ketiga, matahari mulai terbit dan dia membuka tikar sembahyang, masih didapatinya uang itu. Tapi pada hari keempat dia mulai kecewa. Di bawah tikar sembahyangnya tidak ada apa-apa lagi keculai tikar pandan yang rapuh. Istrinya mulai marah karena uang yang kemarin sudah dihabiskan sama sekali. Si alim dengan lesu menjawab, "Jangan khawatir, esok barangkali kita bakal dapat delapan dinar sekaligus."

Keesokkan harinya, harap-harap cemas suami-isteri itu bangun pagi-pagi. Selesai shalat dibuka tikar sajadahnya kosong. "Kurang ajar. Penipu," teriak si istri. "Ambil kampak, tebanglah pohon itu." "Ya, memang dia telah menipuku. Akan aku habiskan pohon itu semuanya sampai ke ranting dan daun-daunnya," sahut si alim itu. Maka segera ia mengeluarkan keledainya. Sambil membawa kapak yang tajam dia memacu keledainya menuju ke arah pohon yang syirik itu. Di tengah jalan iblis laknatullah yang berbadan tinggi besar tersebut sudah menghalang. matanya menyorot tajam, "Mau ke mana kamu?" hardiknya menggelegar. "Mau menebang pohon," jawab si alim dengan gagah berani. "Berhenti, jangan lanjutkan." larang si iblis laknatullah "Bagaimanapun juga tidak bisa, sebelum pohon itu tumbang." jawab pria itu. Maka terjadilah kembali perkelahian yang hebat. Tetapi kali ini bukan iblis laknatullah yang kalah, tapi si alim yang terkulai. Dalam kesakitan, si alim tadi bertanya penuh heran, "Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?" Iblis laknatullah itu dengan angkuh menjawab, "Tentu saja engkau dahulu bisa menang, karena waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, demi Allah. Andaikata kukumpulkan seluruh bala tentaraku mengeroyokmu sekalipun, aku takkan mampu mengalahkanmu. Sekarang kamu keluar dari rumah hanya karena tidak ada uang di bawah tikar sajadahmu. Maka biarpun kau keluarkan seluruh kebisaanmu, tidak mungkin kamu mampun menjatuhkan aku. Pulang saja. Kalau tidak, kupatahkan nanti batang lehermu. "

Mendengar penjelasan iblis laknatullah ini si alim tadi termangu-mangu. Ia merasa bersalah, dan niatnya memang sudah tidak ikhlas karena Allah lagi. Dengan terhuyung-huyung ia pulang ke rumahnya. Dibatalkan niat semula untuk menebang pohon itu. Ia sadar bahwa perjuangannya yang sekarang adalah tanpa keikhlasan karena Allah, dan ia sadar perjuangan yang seperti itu tidak akan menghasilkan apa-apa selain dari kesiaan yang berlanjut. Sebab tujuannya adalah karena harta, mengatasi keutamaan Allah dan agama. Bukankah berarti ia menyalahgunakan agama untuk kepentingan hawa nafsu semata-mata? "Barangsiapa di antaramu melihat sesuatu kemungkaran, hendaklah (berusaha) memperbaikinya dengan tangannya (kekuasaan), bila tidak mungkin harus berusaha memperbaikinya dengan lidahnya (nasihat), bila tidak mungkin pula, harus mengingkari dengan hatinya (tinggalkan). Itulah selemah-lemah iman. " HR. Muslim.